Proses persiapan
Kemerdekaan Indonesia
“seni adalah
perjuangan untuk mempertahankan negeri ini seni juga sangat penting dalam
proses majunya negeri ini”
Oleh:
Ahmad takbir abadi
Perjuangan
lahir dari kreatifnya sang pemegang senjata
tidak lahir orang yang menundukan kepalanya
tidak lahir orang yang menundukan kepalanya
sebelum semuanya terjadi ,tentunya banyak yang terjadi pertempuran di negeri ini, hal tersebut membuat para anak muda dan kaum tua berjuang dengan cara apapun untuk persiapan kemerdekaan negeri indonesia.Negeri ini sudah menjalani beberapa saringan sehingga mendapat hal yang siap untuk kemenangan negeri ini.
PERSIAPAN KEMERDEKAAN INDONESIA
1 Maret 1945
Kumakichi Harada : Pada hari ini 1 Maret 1945, resmi dibentuk BPUPKI atau
Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia resmi dibentuk
dengan tujuan untuk menyelidiki hal-hal penting menyangkut pembentukan negara
Indonesia.
29 April 1945, setelah BUPKI dibentuk pada tanggal 1
Maret 1945 Kumakichi Harada menentapkan Ketua BPUPKI yaitu dr. K.R.T Radjiman
Wediodiningrat. Sedangkan yang duduk sebagai ketua Muda adalah Ichibangase dan
R.P Suroso. Dan sekertaris adalah Mr. A.G. Pringgodigdo. Dengan anggota
sebanyak 60 orang.
29 Mei 1945 BPUPKI mengadakan sidang pertamanya yang
membahas tentang dasar negara bagi Indonesia.
Radjiman Wediodiningrat : Bagaimana pandangan anda
terhadap dasar negara bagi Indonesia?
Moh. Yamin : (ngacung)
Moh. Yamin : (ngacung)
Radjiman Wediodiningrat : Silahkan Moh. Yamin untuk menyampaikan pandangan
anda tentang dasar negara
Moh.
Yamin
: Pandangan saya tentang dasar negara adalah 1) Peri Kebangsaan 2) Peri
Kemanusiaan 3) Peri Ketuhanan 4) Peri Kerakyatan 5) Peri Kesejahteraan Rakyat.
31 Mei 1945 BPUPKI
melanjutkan sidang yang pertama
Radjiman Wedyodiningrat : Hari ini kita
melanjutkan sidang yang pertama. Setelah pendapat dari Moh. Yamin. Mungkin ada
yang mau menyampaikan pandangan lain?
Soepomo
: Saya
Radjiman Wedyodiningrat : Ya, silakan Mr. Soempomo
Soepomo : Menurut saya 1) Persatuan 2) Kekeluargaan 3) Keseimbangan Lahir
dan Batin 4) Musyawarah 5) Keadilan rakyat.
1 Juni 1945, BPUPKI mengadakan rapat lagi melanjutkan
sidang pertama
Radjiman Wediodiningrat : Setelah usulan dari Moh.
Yamin dan Mr. Soepomo. Pak Soekarno , mungkin anda memiliki pandangan sendiri
tentang dasar negara untuk Indonesia?
Soekarno
: Menurut pendangan saya dasar negara indonesia adalah 1)Kebangsaan Indonesia
2)Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan 3) Mufakat atau Demokrasi 4)
Kesejahteraan Sosial 5) Ketuhanan yang Maha Esa. Dan saya menamainya Pancasila
Setelah sidang perama, ada masa reses hingga 10 Juli
1945. Selanjutnya diadakan sidang tidak resmi membahas rancangan Pembukaan
Undang-Undang dasar 1945. Selanjutnya dibentuklah panitia kecil yang
beranggotakan 9 orang. Diketuai oleh yaitu Soekarno, dan wakilnya Drs. Moh.
Hatta.
22 Juni 1945. Panitia sembilan bersidang
Moh Yamin
: Bagaimana jika rumusan dasar negara yang sudah di setujui yaitu : 1)
Ketuhanan dengan kewajuban menjalankan syariat-syariat Islam bagi pemelukanya
2) dinamai dengan Piagam Jakarta?
Anggota :
(Setuju)
Soekarno : Saya juga setuju
Moh. Hatta : Tetapi saya tidak setuju dengan
Piagam Jakarta sila Pertama
Moh. Yamin : Mengapa?
Moh Hatta : Menurut saya Piagam Jakarta
sila pertama perlu diubah karena Indonesia bukan negara Islam.
Setelah melalui beberapa kompromi, akhirnya Ir. Soekarno
memutuskan
Soekarno : baiklah. Setelah
melalui proses yang panjang, sila pertama yang awalnya Ketuhanan dengan
kewajiban menjalankan syariat islam bagi pemeluknya diubah menjadi Ketuhanan
yang Maha Esa.
Sidang ke2 BPUPKI membahas Rancangan UUD dan BPUPKI
mempentuk panitia kecil bernama Panitia Perancang UUD yang diketuai oleh Ir.
Soekarno
Pada 14 Juli 1945
Soekarno : Saya ingin
menyampaikan hasil kerja keras Panitia Kecil yaitu : 1) Pernyataan Indonesia
merdeka 2) Pembukaan Undang-undang Dasar 3) Batang Tubuh Undang-undang dasar.
Dan dalam batang tubuh juga disepakati wilayah negara, bentuk negara :
Kesatuan, Pemerintahan : Republik. Bendera Nasional : Merah Putih, dan bahasa
Nasional : Bahasa Indonesia.
SCENE I : Berita Kekalahan Jepang
Pada
tanggal 15 Agustus 1945, Kaisar Hirohito memerintahkan penghentian permusuhan
terhadap sekutu, setelah sebelumnya yaitu pada tanggal 14 Agustus 1945 sekutu
menjatuhkan bom atom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Berita tentang genjatan
senjata yang dilakukan oleh Jepang ini disiarkan di radio jepang dari Tokyo.
Ternyata siaran tersebut tertangkap di Indonesia dan Sutan Syahrir
mendengarnya.
Sutan Syahrir : Apakah kalian sudah mendengar berita
kekalahan Jepang ?
Sukarni :
Belum, Bung . Benarkah itu ? Apa yang terjadi dengan Jepang ?
Sutan Syahrir : Dari yang kudengar, Sekutu telah
menjatuhkan bom di kota Hiroshima dan Nagasaki. Oleh sebab itulah, Jepang
melakukan genjatan senjata.
Chairul Shaleh : Kalau begitu, berarti kita harus segera
memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni :
Benar itu, Jepang sudah tak ada wewenang lagi di negeri kita. Kita harus
memanfaatkan momen ini !
SCENE II : Peristiwa Rengasdengklok
Babak
1 : Perdebatan golongan tuan
dengan golongan muda
Setelah mendengar berita kekalahan
Jepang, Chairul Shaleh segera merencanakan pertemuan dengan anggota golongan
muda lainnya untuk membicarakan masalah proklamasi kemerdekaan. Pertemuan ini
dilangsungkan di Jalan Pegangsaan Tinur No. 17 Jakarta pukul 20.00 WIB.
Chairul Shaleh : Teman-teman sekalian, sudahkah kalian
mendengar berita tentang kekalahan Jepang ?
Wikana :
Belum, kawan . Darimana engkau tahu tentang itu ?
Chairul Shaleh : Barusan saya dan Sukarni berkumpul dengan
Syahrir, ia mendengar siaran radio Jepang yang mengumumkan berita tentang
genjatan senjata itu.
Darwis :
Berarti negeri kita sekarang dalam kondisi vacuum of power ?
Chairul Shaleh : Benar. Demikian, saya mengumpulkan kalian
semua disini untuk membicarakan masalah itu. Kita harus memanfaatkan situasi
ini untuk memproklamirkan kemerdekaan.
Sukarni :
Tepat sekali . Kalau begitu, kita harus membagi tugas. Wikana dan Chairul ,
kalian harus pergi ke kediaman Soekarno untuk menyampaikan kabar ini.
Saya dan Bung Darwis akan memerintahkan
anggota pemuda lainnya untuk merebut kekuasaan dari Jepang.
Kediaman Soekarno, Jl. Pegangsaan Timur
No.56 Jakarta pukul 22.00 WIB. Terjadi Perdebatan serius antara golongan pemuda
dengan Soekarno
Wikana :
Kita harus memproklamirkan kemerdekaan sekarang , Bung !
Soekarno : Ini batang leherku, seretlah aku ke pojok itu
sekarang dan potong leherku malam ini juga ! Kamu tidak perlu menunggu hingga
esok hari !
Chairul
Shaleh : Tapi ini
saat yang tepat, Bung. Jepang sudah kalah oleh Sekutu dan tak ada kuasa lagi di
negeri ini. Mengapa harus menunggu ? Rakyat sudah banyak menderita akibat
penjajahan ini..
Moh. Hatta : Jepang adalah masa yang silam. Belum lagi kita
harus menghadapi Belanda yang hendak kembali berkuasa di negeri ini. Jika
Saudara tidak setuju dengan apa yang saya katakan, dan mengira diri Saudara
telah sanggup menopang kekuatan sendiri, Mengapa datang pada Soekarno dan
memintanya untuk memproklamirkan kemerdekaan?
Chairul Shaleh : Apakah kita harus menunggu janji Jepang untuk
memerdekakan bangsa ini ? Kita bisa, Bung . Kita harus bangkit dan
memproklamirkan kemerdekaan sendiri . Mengapa harus menunggu janji manis itu ?
Jepang sendiri bahkan telah kalah dalam “Perang Suci” nya !
Soekarno : Kekuatan segelintir ini takkan mampu
mengalahkan armada perang milik Jepang ! Coba kau perlihatkan padaku, mana
bukti kekuatan yang diperhitungkan itu ? Apa tindakanmu untuk menyelamatkan
wanita dan anak-anak jika ternyata terjadi pertumpahan darah ? Bagaimana cara
kita nanti untuk mempertahankan kemerdekaan ? Coba bayangkan, bagaimana kita
akan tegak di atas kekuatan sendiri.
Wikana :
Tapi semakin cepat kita memproklamasikan kemerdekaan akan semakin cepat pula
kita mengakhiri penderitaan rakyat yang sudah ditanggung selama ini.. Inilah
yang sudah ditunggu-tunggu bangsa kita, Bung.
Moh. Hatta : Baiklah. Tapi berikan kami waktu untuk berunding
sebentar.
Kemudian para anggota golongan tua yang
berada di kediaman Soekarno langsung membicarakan permasalahan tersebut.
Moh. Hatta : Bagaimana ini ? Para pemuda menuntut untuk segera
memproklamasikan kemerdekaan.
Soekarno : Tapi kita tidak boleh gegabah, Bung. Kita butuh
waktu untuk mempersiapkan semuanya dengan matang agar tidak terjadi sesuatu
yang tidak diinginkan.
Mr. Soebardjo : Saya setuju. Menurut saya, yang terpenting
sekarang adalah menghadapi Sekutu yang hendak berniat kembali berkuasa di
negeri ini. Selain itu, masalah kemerdekaan sebaiknya dibicarakan lagi dalam
sidang PPKI 18 Agustus mendatang.
Iwa Kusumasumantri : Lalu bagaimana dengan pendapat
golongan muda ? Apa kita abaikan saja ?
Djojo Pranoto : Ya, lagipula mereka masih muda, pemikiran
mereka terlalu pendek. Kita harus melihat ke depan, mempersiapkannya dengan
matang. Kalau tidak bagaimana nanti jika semuanya berantakan?
Iwa Kusumasumantri : Baiklah , Bung. Berarti kita semua
sudah sepakat.
Setelah selesai berunding, para
golongan tua segera menemui para anggota golongan muda yang menunggu di luar
ruangan.
Moh. Hatta : Setelah kami berunding tadi, kami memutuskan untuk
tidak tergesa-gesa mengenai hal proklamasi kemerdekaan. Hal ini masih akan
dibicarakan lagi dalam sidang PPKI.
BABAK
2 : Penculikkan Soekarno dan Moh.
Hatta oleh para pemuda.
Dengan berat hati
mendengar keputusan tersebut, para pemuda pun meninggalkan kediaman Soekarno.
Tetapi mereka tidak putus asa. Mereka pun menyusun strategi bagaimana membujuk
Soekarno dan Moh. Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan sesegera mungkin.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengasingkan kedua tokoh itu ke Rengasdengklok
agar terhindar dari desakan pemuda dan pengaruh Jepang di Jakarta.
Tanggal
16 Agustus 1945 Pukul 04.00 WIB, kediaman Soekarno
Chairul
Shaleh :
Assalamualaikum ..
Moh.
Hatta : Waalaikumsalam.
Ada apa Saudara datang sepagi ini ?
Darwis : Kami bermaksud membawa
Anda dan Soekarno untuk ikut kami menuju tempat pengasingan.
Soekarno : Tempat pengasingan ? Apa
yang Saudara maksudkan ?
Chairul
Shaleh : Ya, kami
akan membawa kalian untuk diasingkan agar terhindar dari ancaman bentrok antara
rakyat dan Jepang.
Moh.
Hatta : Baiklah, kami akan
ikut.
Darwis : Sebaiknya Ibu
Fatmawati dan anak Anda turut serta, Bung. Untuk menjamin keselamatan mereka.
Soekarno : Baiklah, saya akan
mengajak mereka.
Hilangnya
Soekarno dan Moh. Hatta secara misterius pagi itu,menimbulkan kepanikan di kalangan
para pemimpin di Jakarta. Peristiwa ini baru diketahui oleh Mr. Ahmad Soebardjo
pukul 08.00 pagi.
Mr.
Soebardjo : Apakah
Saudara tahu keberadaan Soekarno dan Bung Hatta ?
Wikana : Maaf, saya tidak tahu,
Bung.
Mr.
Soebardjo :
Katakanlah kepadaku dimana mereka sekarang, dan aku akan menjamin keselamatan
mereka ketika kembali ke Jakarta, dan aku akan menjamin kemerdekaan untuk
kalian esok harinya.
Sudiro : Akankah Anda
bersumpah untuk itu ?
Mr.
Soebardjo : Kau bisa
percaya padaku, Nak
Wikana : Baiklah, kami akan
menunjukkan tempatnya, di Rengasdengklok.
Mr.
Soebardjo :
(memanggil salah seorang pemuda) Hei, Nak ! Tolong antarkan kami ke
Rengasdengklok.
Yusuf
Kunto : Maaf, saya, Pak ?
Baik, kalau begitu naiklah (Mr. Soebardjo naik ke mobil beserta Wikana dan
Sudiro kemudian berangkat menuju Rengasdengklok)
BABAK 3 : Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
BABAK 3 : Perundingan dengan Soekarno di Rengasdengklok
Soekarno : Nah , jelaskan sekarang
mengapa Saudara sekalian membawa kami kesini.
Chairul
Shaleh : Maafkan
kelancangan kami, Bung . Ini demi keselamatan Anda.
Darwis : Kami ingin
membicarakan masalah proklamasi kembali.
Moh.
Hatta : Bukankah tempo
hari sudah kami katakan kepada kalian, masalah kemerdekaan masih akan
dibicarakan dalam sidang PPKI ?
Chairul
Shaleh : Memang benar
adanya. Tetapi kami semua berpendapat, Mengapa menunggu untuk di merdekakan
oleh Jepang ? Mengapa menunggu hasil sidang PPKI, kalau kita bisa bergerak
dengan kekuatan sendiri ? PPKI itu bentukan Jepang, Bung. Kami ingin
memproklamasikan kemerdekaan tanpa campur tangan dari Jepang.
Soekarno : Pendapat itu benar. Namun,
kita masih terlalu dini untuk memproklamasikan kemerdekaan. Selain itu kita
belum siap dan masih membutuhkan bantuan dari Jepang untuk merdeka.
Darwis : Bagaimana bila
perkataan Jepang tentang kemerdekaan bangsa kita hanya janji manis belaka ? Apa
yang akan Anda lakukan ?
Sukarni : Apakah akan selamanya
menunggu janji itu, Bung ? Kita harus memproklamasikan kemerdekaan sekarang
juga, demi rakyat yang sudah bertahun-tahun terbelenggu oleh penjajahan di
Tanah Air mereka sendiri ! Mereka berhak bebas, dan sekaranglah saatnya !
Syodanco
Singgih : Tenang Saudara sekalian.
Mari bicarakan semuanya dengan kepala dingin, tidak perlu ada ketegangan , ok ?
(Syodanco
Singgih membawa Soekarno dan Moh. Hatta menjauh dari perdebatan itu, kemudian
mereka berunding)
Syodanco
Singgih : Saya mengerti perhitungan
Anda berdua mengenai masalah proklamasi ini, kita memang belum mempertimbangkan
semuanya dengan matang. Tapi saya percaya kita dapat bangkit dan memanfaatkan
situasi ini. Kesempatan tidak akan datang dua kali, Bung . Apa yang mereka
katakan benar adanya dan saya mendukung mereka.
Moh.
Hatta : Tetapi, apakah
kita bisa?Akankah ini semua mungkin dilakukan ?
Syodanco
Singgih : Tentu mungkin, Bung . Asal
kita berusaha tentu akan kita temukan jalan keluarnya. Lagipula, para pemuda di
Jakarta sedang menyusun strategi pertahanan untuk mencegah serangan dari Jepang
ataupun sekutu yang tidak menerima proklamasi bangsa kita.
Soekarno : Baiklah, saya setuju. Kita
akan memproklamasikan kemerdekaan tanpa ada campur tangan Jepang.
Pada
pukul 17.30 WIB , rombongan dari Jakarta tiba di Rengasdengklok untuk menjemput
Soekarno dan Moh. Hatta.
Mr.
Soebardjo :
Syukurlah kalian semua baik-baik saja. Jadi bagaimana keputusannya ?
Moh.
Hatta : Kami setuju
kemerdekaan akan dilaksanakan tanpa campur tangan Jepang.
Mr.
Soebardjo : Lalu,
Kapan kita akan melaksanakannya? Menurut saya, bagaimana jika besok ? Pasukan
pemuda di Jakarta sudah bersiap.
Soekarno : Jika mungkin, ya kita akan
melaksanakannya esok pagi.
Selesailah
perundingan di Rengasdengklok. Semua anggota golongan tua maupun muda kembali
ke Jakarta untuk membahas lanjut rencana proklamasi kemerdekaan tanggal 17
Agustus 1945.
SCENE
III : Rumah Laksamana Maeda (Perumusan
Teks Proklamasi)
Tanggal
16 Agustus 1945 pukul 23.00 WIB, rombongan tiba di Jakarta.
Mr.
Soebardjo :
Bagaimana kita membicarakan naskah proklamasi untuk mendeklarasikan kemerdekaan
kita ?
Chairul
Shaleh : Kita butuh
tempat untuk membahasnya, Bung. Tapi hari sudah malam dan pihak Jepang tak
mungkin mengizinkan kita melakukan kegiatan sekarang, apalagi jika mereka tahu
bahwa kita hendak membicarakan rencana proklamasi.
Mr.
Soebardjo : Saya
punya ide. Kita akan meminjam rumah perwira Jepang, Laksamana Maeda.
(Rombongan
kemudian berangkat ke rumah Laksamana Maeda di Jl. Imam Bonjol No.1)
Mr.
Soebardjo :
(mengetuk pintu)
Laksamana
Maeda : Selamat malam, Ada apa, Bung ?
Mr.
Soebardjo : Maaf
kami mengganggu Anda malam-malam begini. Kami perlu tempat untuk membicarakan
rencana kemerdekaan yang akan dilangsungkan esok hari.
Laksamana
Maeda : Benarkah itu ? Kalau
begitu,masuklah. Saya turut gembira mendengar kabar ini . Silakan gunakan
ruangan yang kalian butuhkan. Saya akan pergi istirahat dulu.
Chairul
Shaleh : Terimakasih,
Pak Perwira.
Perumusan Teks Proklamasi
dilakukan di rumah makan Maeda. Tiga eksponen pemuda yaitu Sukarni, Sudiro, dan
B.M Diah menyaksikan Soekarno, Moh Hatta, dan Mr. Ahmad Soebardjo membahas
perumusan naskah proklamasi.
Acara Perumusan naskah proklamasi
berjalan lancar.Tidak ditemukan kesulitan untuk menemukan rumusan yang tepat.
Sebagai hasil pembicaraan mereka bertiga, di perolehlah rumusan yang di tulis
tangan oleh Soekarno.
Pada tanggal 17 Agustus 1945
pukul 04.00 WIB, dibacakanlah rumusan naskah proklamasi untuk yang pertama
kalinya di depan para hadirin yang berada di rumah Maeda yang langsung
disetujui. Namun kemudian timbullah persoalan tentang siapa saja yang akan
menandatangani naskah proklamasi.
Chairul
Shaleh : Menurut
saya, sebaiknya naskah ini jangan ditandatangani oleh anggota PPKI.
B.M
Diah : Memang kenapa ?
Lantas siapa yang akan menandatanganinya?
Chairul
Shaleh : PPKI kan
lembaga bentukkan Jepang . Kita sudah sepakat tadi untuk melaksanakan
proklamasi tanpa campur tangan Jepang.
Mr.
Soebardjo : Kau
benar, Nak. Bagaimana ini , Bung ?
Soekarno : Adakah dari kalian yang
punya pendapat untuk menyelesaikan masalah ini?
Sukarni : Bagaimana jika naskah
ini ditandatangani oleh hadirin yang datang saat ini? Seperti Amerika ketika
menandatangani teks deklarasinya.
Moh.Hatta : Jangan, kita tidak boleh
meniru. Kita harus berbeda dari bangsa lain.
Wikana : Lalu bagaimana, Bung
Karno ?
Soekarno : Karena ini semua berkat
jasa-jasa Indonesia berarti “Atas nama bangsa Indonesia”
Sukarni : Saya setuju, dan saya
punya usul. Yang menandatangani teks cukup dua orang saja yaitu Anda dan Bung
Hatta sebagai wakil dari bangsa Indonesia. Bagaimana ?
Soekarno : Usul yang bagus .
Bagaimana hadirin ?
Hadirin
(semua) : Kami setuju !!!
Setelah semuanya setuju, Soekarno memerintahkan
Sayuti Melik untuk mengetik teks proklamasi
Soekarno : Tolong kau ketik teks
proklamasi ini. Jagalah teks ini baik-baik.
Sayuti
Melik : Baik, Bung . (dengan
segera mengetik teks tersebut)
Sayuti
Melik pun mengetik teks tersebut. Semua persiapan proklamasi rampung pada pukul
04.30 WIB. Lalu, semua hadirin pulang ke rumah masing-masing dengan perasaan
gembira. Kemudian para pemuda mengirimkan kurir-kurir untuk menyampaikan bahwa
saat proklamasi telah tiba. Mereka juga mengatur pelaksanaan penyiaran berita
proklamasi kemerdekaan. Menyebarkan beberapa pamfleet ke penjuru Jakarta dan
sekitarnya. Pengeras suara diusahakan adanya. Semua dilakukan agar rakyat dapat
turut menyaksikan momen paling berharga untuk bangsa Indonesia
Pada
saat yang sama, Soekarno dan Ibu Fatmawati sampai di kediaman mereka dan
berbincang sejenak.
Soekarno : Alhamdulillah akhirnya
semua berjalan dengan lancar. Terimakasih ibu telah menemani saya di saat-saat
yang cukup menguras pikiran ini.
Ibu
Fatmawati : Iya,
terimakasih Gusti Allah yang telah memberikan jalan pada bangsa kita untuk
memproklamasikan kemerdekaan. Oh iya pak, apakah kalian sudah merencanakan
bagaimana proklamasi besok akan berlangsung ?
Soekarno : Sudah, kita akan
melaksanakan upacara bendera, yang nanti akan di iringi lagu Indonesia Raya
karya Bung Supratman.
Ibu
Fatmawati : Bukankah
kita belum punya bendera ? lantas bagaimana ?
Soekarno : Ya ampun , Bapak sampai
lupa, Bu. Kalau begitu bagaimana jika Ibu saja yang menjahitkan bendera ?
Ibu
Fatmawati : Tapi Ibu
tidak punya kain, Pak. Kain yang ada hanya kain merah dan putih. Apa tidak
apa-apa?
Soekarno : Tentu saja. Buatlah
bendera yang sederhana. Yang penting kita sudah berusaha untuk menyediakannya.
Ibu
Fatmawati : Baiklah,
Pak. Dan, Ibu punya ide. Kita namakan saja bendera nya “Sang Saka Merah Putih”.
Bagaimana ?
Soekarno : Ide yang bagus. Ya,
bendera pusaka “Sang Saka” dan warna nya merah putih , menjadi “Sang Saka Merah
Putih” , Brilian !
Ibu
Fatmawati : Ya sudah, sebaiknya
Bapak bersiap sana. Menyusun pidato yang nanti akan bapak bacakan.
SCENE
IV : Proklamasi Kemerdekaan
Hari
Jum’at pada tanggal 17 Agustus 1945 pukul 10.00 WIB di Jl. Pegangsaan Timur
No.56 , dilangsungkan proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sesaat
sebelum upacara dimulai…
Soekarno : Trimurti, tolong Anda
kibarkan bendera Merah Putih ini sebagai tanda awal kejayaan bangsa ini.
(sambil menyerahkan bendera)
Trimurti : Siap, Bung.
Saya akan menyuruh anak didik saya untuk mengibarkannya. (memanggil Suhud dan
Latief) Hei, kalian ! Jaga baik-baik bendera ini. Kalian mendapat kehormatan
untuk mengibarkan bendera ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia.
Latief
dan Suhud : Siap, Komandan ! Kami tak
akan mengecewakan Anda.
Tiba
saatnya Upacara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…
Tokoh-tokoh
pejuang Indonesia telah hadir di lokasi. Di antaranya yaitu Mr. AA. Maramis,
HOS Cokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hajar Dewantara, M. Tabrani dll.
Suasana
menjadi sangat hening. Soekarno dan Hatta dipersilahkan maju beberapa langkah
dari tempatnya semula. Soekarno mendekati mikrofon. Dengan suaranya yang
lantang dan mantap, Soekarno pun membacakan pidato pendahuluan sebelum beliau
membacakan teks proklamasi.
Pidato
Soekarno :
Saudara-saudara sekalian ! Saya
telah minta Saudara hadir disini, untuk menyaksikan peristiwa maha penting
dalam sejarah bangsa kita. Berpuluh-puluh tahun kita bangsa Indonesia telah
berjuang untuk merdeka. Bahkan telah beratus-ratus tahun lamanya, gelombang
aksi kita tidak putus dalam berjuang untuk memerdekakan negeri ini. Kita jatuh
bangun menyusun kekuatan untuk menggapai cita-cita Indonesia bebas dari
penjajahan bangsa lain. Semalam, kami para pemuka-pemuka rakyat Indonesia dari
berbagai penjuru bergabung untuk memusyawarahkan dan permusyawaratan itu
seiya-sekata berkata : inilah saatnya bagi kita untuk mengobarkan api revolusi
kemerdekaan Indonesia. Saudara sekalian ! Dengan ini kami menyatakan kebulatan
tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami :
PROKLAMASI
Kami
bangsa Indonesia dengan ini menyatakan Kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal-hal
yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain, diselenggarakan dengan cara
saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya
Jakarta,
hari 17 bulan 8 tahun 45
“Atas
nama bangsa Indonesia”
Soekarno-Hatta
Kemudian
di kibarkanlah bendera Sang Saka Merah Putih diiringi lagu Indonesia Raya.
Hadirin turut menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia tersebut.
Peristiwa
Proklamasi ini memang hanya berlangsung sebentar. Namun. Peristiwa itu telah
megubah segala sendi kehidupan bangsa Indonesia. Peristiwa Proklamasi
Kemerdekaan telah menjadi momentum puncak perjuangan Bangsa Indonesia. Oleh
karena itu, kita sebagai generasi penerus bangsa harus berprestasi dalam rangka
mengisi kemerdekaan tersebut, bukan malah menodainya. Kita harus bisa membalas
budi para pejuang Tanah Air jaman dahulu dengan cara mempertahankan kemerdekaan
ini !
NAMA
– NAMA PEMERAN :
Ir.
Soekarno : Laksamana
Maeda :
Moh.Hatta : Trimurti :
Mr.Soebardjo : Iwa Kusumasumantri :
Chairul
Shaleh : Djojo Pranoto :
Wikana : Yusuf Kunto :
Darwis : Sudiro :
Syodanco
Singgih : B.M Diah :
Ibu
Fatmawati : Sayuti Melik :
Sutan
Syahrir : Latief H. :
Sukarni : S. Suhud :
Kumakichi Harada :
terimah kasih , saya sangat membutuhkan masukan dan saran anda semua

Tidak ada komentar:
Posting Komentar